Warning : All rights reserved. Unauthorized duplication is a violation against applicable laws.

Copyright 2003. Trianza!

 

 











PJudul Produksi : Launo Trianza

Kategori : 3 X-act

Lulus sensor tahun : Peralihan 99-00

Produser : Mommy Hasni Syam

Sutradara : Ibnu de_Gumalay

Ass.Sutradara : Budjid de_Saputra

Penulis Skenario : I_da Restu Utami

Keuangan Produksi : Chie2 ,Yu_yul

Kru : Aktor ‘n Aktris

Member : 23 Actrees ‘n 23 Actor ( gonosom haploid X & Y)

Hobby para celeb :

Actor

-main CM

-mambalai

-ngecek kumuah

-manggaduah cewek liwat jendela

Actress

-manggoda hujan lebat dr kejauhan

-mangupiang pembicaraan Triple Alliance

-manggaduah urang2 elok Trianza

General -bae karateh

-maeboh ‘n ngakak

Olahraga kegemaran : -sepakbola -godsil - main cangkul

-catur -WE & CM

Prestasi :

Juara I Liga SMANSA 2001

Juara Umum MAFIKI tk. .SMANSA & DB

Perwakilan Sumbar di IPHO Nasional

Semifinalis TOKI Nasional

No.1 UNI SMANSA 2000

No.3 UDA SMANSA 1999

Juara 1 English Debate

Juara II Pa & Pi MTQ

Raja & Ratu TO se-Sumbar,Jambi,Riau

Calon Juara I Cerdas Cermat se-Sumbar

Masuak Koran

Kelas I - Agus’99

Hari ini adalah hari pertama kami belajar di SMU 1 Padang. Kami bangga, akhirnya kami bisa juga duduk di SMU 1 ini yg merupakan SMU favorit di kota Padang (mambangga stek lu ha).

Kami dikumpulkan di sebuah lapangan, dengan seragam putih abu-abu dan atribut sekolah yang masih bau toko, di pimpin oleh seorang guru yang dipimpin oleh seorang guru yang mempunyai suara lantang tetapi babadan ngenek (tau se lah tu sia urangnyo). Guru itu membagi-bagi kami menjadi tujuh kelompok yang nantinya akan menjadi kelas kami. Ia menyebutkan nama-nama siswa satu persatu. Dan akhirnya kami sudah berdiri di sebuah kelompok yang anggota-anggotanya ... wah kece-kece (mungkin atas dasar kekecean itu lah kami dikelompokan, he he he). Kelas I1, ya itulah kelas kami. Kami mulai mengakrabkan diri dengan cara kami masing-masing, termasuk juga dua orang cewek yang sengaja berbahasa Indonesia ria untuk saling memperkenalkan diri masing-masing. “Namanya siapa, sangkek dulu dimana SMPnya?”. Pertanyaan-pertanyaan macam itulah yang terlontarkan dari kami. Hari pertama ini kami masih dalam masa orientasi (MOS) yang dulunya disebut penataran P4. Kami dibimbing sepasang Satgas (Biuti en de bis) yang ceweknya manis tapi cowoknya hancur (sorry ya Acek, bagarah) Hari-hari orientasi itu kami lalui dengan semangat, ya sesemangat Reza Alfajri merayu siswi manis di depan kelas lah ...

Orientasi itu berakhir dengan sebuah acara penutupan yang menampilkan atraksi dari masing-masing kelas. Memang, kelas kami adalah kelas yang kreatif. Dengan tema “Sunatan masal”, cowok-cowok kelas I1 dengan pedenya basaruang-saruang ria di tangah lapangan. Tidak diragukan lagi, tepuk riuh penonton menggelegar dan membahana di seantero SMANSA, tetapi walaupun beigtu kami tak pernah menyombongkan diri, malahan kami adalah termasuk orang-orang yang rendah hati (ninggiin mutu, he he he )


September ’99

Satu-persatu guru telah masuk dan mengajar di kelas kami, termasuk juga seorang guru Matematika yang kami anggap sebagai jelmaan Pratama masa depan (he he he ).

Kami juga sudah mengetahui siapa wali kelas yang akan mendampingi kami. Dia adalah seorang guru Bahasa Inggris, memakai jilbab dan memakai kacamata yang lumayan besar dan tebal (Dari dekat mirip seorang artis telenovela di RCTI). Ya, benar, namanya Dra. Yulastri. Mengenai kelas, lokasi kelas kami termasuk lokasi yang strategis. Jauh dari keramaian (maksudnya dari guru-guru yang berlalu-lalang) dan dekat dengan “kampuang tangah”, maksudnyo dakek ka cafe “Mama”. Tapi kasihan juga dengan teman-teman kami yang nggak tahan dengan bau yang sedap dari cafe itu. Kalau sudah begini, berjatuhanlah iler-iler mereka (kaciaaan deh lu!)


Desember’99

Cawu I sudah berakhir, sekarang kami sudah berada di Cawu II. Kami kedatangan seorang siswi tak diundang. Sebenarnya kami keberatan dengan kedatangan cewek ini. Tapi akhirnya kami menerimanya dengan pertimbangan akan menambah stok cewek-cewek manis I-1. Namanya Fita. Anaknya tinggi tapi masih kalah saing dengan Ridho. Ia pendiam, bisa dikatakan pemalu lah, tapi lebih lagi kalau disebut malu-maluin (anggap se angin lalu Ing!) Kelas kami juga sering menerima tantangan untuk bertanding sepak bola dari kelas-kelas lain, baik itu yang ilegal, maupun yang legal (Liga SMANSA). Untuk yang legal ini, walaupun nggak menang, kami nggak putus asa. Kami tetap berlatih dan sengaja mendatangkan pelatih dari Eropa sana. Selain itu kami juga mentransfer bomber-bomber jitu, baik itu dari dalam negeri, maupun luar negeri (Kebanyakan main CM...) Hasilnya ... tunggu saja tahun depan (he he he...)


Maret ’00

Cawu III ini kami lumayan sibuk. Kami mendapat tugas “ensambel” dari guru kesenian (satu-satunya guru yang masuk kelas kami yang wajahnya bisa menjernihkan hati dan pikiran). Maaf! Bukan maksud kami mengatakan bahwa guru yang lain tidak “jernih”, tapi memang sudah rada “uzur” (hi hi hi ).

Dalam rangka memenuhi permintaan (lebih bisa dikatakan paksaan), maka selain menampilkan ensambel musik, kami dipaksa menampilkan konser paduan suara. Awalnya sih, akan dibacking sama Erwin Gutawa Orkestra. Tapi terjadi perdebatan antara Erwin Gutawa dengan Purwacaraka Orkestra. Sehingga dengan terpaksa kami tidak memakai dua-duanya. Akhirnya dengan berat hati. Kami memilih sanggar Sovyani yang awalnya kami meragukan reputasi Sanggar ini. Ternyata dugaan kami benar. Pimpinan Sanggar ini dengan kejamnya memilihkan seorang pelatih yang sebenannya sama sekali tidak memiliki bakat seni, tetapi lebih cocok menjadi Bodyguard President, bukan hanya karena “non-abuak” di kepalanya, tetapi juga caranya yang telah menjengkelkan hati kami. “U...LA.NG..... ULA..NG ...”-nya membuat kami patah semangat untuk belajar. Kami menampilkan dua lagu hasil kreatifitas kami sendiri. Ternyata memilih lagu itu hal yang sulit, karena terlalu banyak artis penyanyi yang ingin kami nyanyikan lagunya. Kemudian kami mengadakan tender yang persaingannya lebih ketat dari tender pemilik BCA. Akhirnya berkat kengototan Chrisye dan Westlife, kami menyanyikan Lilin-lilin Kecil dan I Have a Dream

Tugas ini menambah kekompakan kami karena selalu latihan bersama-sama di sanggar Sofyani. Dengan pakaian hitam putih akhirnya “ensambel” itu sukses juga digelar walaupun membuahkan patahnya gitar seorang “cewek manis”

Selain “ensambel” tadi, kami juga disibukkan dengan perpisahan kelas 3. Setiap kelas harus menampilkan bakatnya untuk diseleksi. Sekali lagi, kami nggak pusing sedikitpun karena siswa-siswi kelas I1 memang kreatif (mambangga liak ha...). Yang menjadi korban kekreatifan kami itu adalah 5 pasang siswa. Mereka dipercayai untuk mewakili kelas kami untuk menarikan tarian kreatif “Cindai”.

Kami memang nggak salah pilih, buktinya kelas kami lulus seleksi dan sudah dapat dipastikan tarian kami ini ditampilkan di perpisahan kelas 3 nanti.

Nggak heran lagi, bagaimana antusiasnya, warga SMANSA melihat pertunjukan itu. Mereka sempat berlari-larian mengejar para penari, hanya untuk mendapatkan sebuah tanda tangan atau sebuah foto, ya layaknya seperti paparazi lah...

Tapi sekali lagi, kami nggak pernah sombong karena kami adalah siswa yang rendah hati (ninggiin mutu ha ha ha)


Kelas II - Agus ‘00

Tak terasa, sudah satu tahun kami belajar di sekolah ini. Sudah satu pula kami membina kebersamaan ini. Sekarang kami sudah duduk di kelas dua. II1, ya itulah kelas kami. Pihak sekolah memang sengaja tidak mengacak siswanya. Di satu sisi, kami kecewa dengan keputusan itu karena masing-masing kami sudah bosan mancaliak muko yang itu-itu jo baliak. Tapi di sisi lain, kami pun sadar bahwa mungkin ini adalah jalan dari Tuhan agar kami terus bersama, dan terus menjalin cinta kasih (padiah ma, pakai cinta-cinta lo ha). Di kelas II1 ini kami dianugerahi seorang wali kelas yang manis & bahenol (bak kecek urang-urang, “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki ....). Namanya Dra. Yenni Anita, ia mengajar bahasa Inggris. Ia adalah guru yang tegas dan disiplin, walaupun kadang-kadang ketegasan ini menjengkelkan bagi Uu’ yang tidak layak didera derita seperti itu (he he... masuak jo Uu’ jadinyo)

Lokasi kelas kami berbeda dengan kelas satu dulu. Letaknya paling ujung dan dekat dengan jalan. Ya, memang lumayan bising, tapi sekedar mendengarkan Drum Band lewat dan mendengarkan baku tembak tawuran di jalanan, bisa lah ...


Oktober ‘00

Sekolah kami sekarang lagi sibuk-sibuknya dengan pemilihan ketua OSIS. Ya, kalau sudah begini, bermunculanlah beberapa orang kandidiat. Bukannya kami, hendak berbangga, tapi apa daya memang inilah kenyataannya, tak dapat disangkal lagi jabatan sebagai ketua OSIS diletakkan di pundak salah satu anggota kami yaitu si Juju. Ia memang pantas jadi Ketos, karena ia memang jago ngomong dan mangolak alias “speak bangsat”.

Wakil Ketos SMANSA adalah Reza Alfajri, lagi-lagi dari kelas II1. Selain itu, kelas kami memang bertaburan dengan bintang contohnya saja Widya Angelia yang dinobatkan menjadi Uni SMANSA (Selamat Bung, anda layak dapat bintang!). Kalau si Iwid ko, alah taruji kamampuannya ma. Inyo pernah manjadi “Miss kecantikan” di Rtnya. Tapi waktu mandaftar untuak jadi “Miss Kecantikan” di kelurahan, inyo ditolah karano barek badannyo kurang (ha, ha ... bantuak ka mandonor darah se, pakai ukua barek badan lo).


December ‘00

Bulan Ramadhan memang bulan penuh hikmah (iko indak iklan TV swasta gai ko do). Tapi memang benar, bulan Ramadhan ini memberikan hikmah yang luar biasa bagi kami. Di bulan ini kami berusaha memperbanyak ibadah, baik itu secara vertikal dengan Sang Pencipta, maupun secara horizontal dengan sesama manusia. Kami tetap berikhtiar dalam melakukan sesuatu dan kami akan selalu tawaqal karena kami adalah orang-orang yang qanaah (sorry se ha ... bahasonyo agak agamais).

Untuk mempererat tali silaturrahmi, kelas kami mengadakan “open tugeder” di rumah si Tya. Kami sangat senang karena waktu itu si “Ronan Kriting” datang (tau kan sia urangnyo).

Waktu mau pulang, kami sengaja mengabadikan moment ini di halaman rumah Tya dan berhubung hari sudah malam dan gelap, kami menggunakan lampu mobil salah satu anggota kami. Hasilnya ... tetap manis-manis dan kece-kece (mungkin sudah dasarnya manis kali ya, he he he)


Januari ‘ 01

Hari ini kami berada di rumah Lebox untuk merayakan ultah teman-teman kami yang berulang tahun pada bulan Januari. Memang, acara ini sudah menjadi tradisi tiap bulan kelas kami untuk merayakan “hari jadi”. Hal ini juga merupakan salah satu jalan untuk mempererat kekompakan diantara kami.


Februari ‘01

Akhirnya Liga SMANSA yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Kami sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari latihan, mencari-cari donatur (bantuak malam amal se), sampai ka mancari baju bola untuak main.

Dengan persiapan yang matang dan perjuangan yang keras, pertandingan demi pertandingan kami menangkan. Akhirknya sampailah kita pada saat yang berbahagia ,dengan selamat sentoasa mengantarkan kelas II1 ke babak final melawan kelas I4. Pertandingan ini sangat seru, dengan semangat ’45, kami para suporter telah mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk memberi semangat, ada yang membawa terompet, botol kosong dan ada juga yang melarikan embe amaknyo. Selain itu, ada yang membawa minum, kue, makanan, lapiak, kompor, pariuak, tenda ... (ha ha ha ... kok jadi bantuak kemping yo!)

Mari kita kembali ke jalan yang benar, pertandingan final ini akhirnya dimenangkan oleh anak-anak II1 secara meyakinkan. Dua gol dari Junek dan satu gol penalti dari Weghan memaksa lawannya bertekuk lutut tak berdaya. 3-1 skor akhir. Berkat kegigihan, kami berhasil juga memboyong gelar juara Liga SMANSA ini pulang. Sekali lagi, kemenangan ini adalah hasil jerih payah kami. Walaupun kami akui juga, kemenangan ini berkat baju “Oranye” Bang Ai dan “celana lalok” si Alfajri ... (eplaus untuk mereka)

Gosip miring beredar seputar kemenangan kami ini, tapi kami nggak ambil pusing melainkan ambil golok untuk membacok mereka ... (paca muncuang ... he he he).

Kami masih bisa berpikir realistis bahwa semakin tinggi sebuah pohon, semakin kuat pula badai menerpanya (anak sastra ko ma).


April ‘01

Indak taraso wakatu ko bajalan, kini alah ka bakirok lo baliak anak-anak kelas tigo. Itu berarti akan ada lagi perpisahan lagi. Seperti biasa, kelas kami mengutus “dancer”nya II1. Tarian kami kali ini adalah tari “Bersuka Ria”. Maunya sih memberikan kesempatan kepada kelas lain untuk tampil dalam acara perpisahan itu, tapi bagaimana lagi, kami nggak tega melihat panitia memohon-mohon agar tarian ini ditampilkan (hi, hi ... sorry panitia).

Bicara mengenai penari II1, mereka adalah anak-anak yang berbakat. Buktinya saja, mereka sudah teken kontrak dengan salah satu guru B.Indonesia kami untuk mengisi acara “kawinan” anaknya di gedung Bagindo Aziz Chan.

Tentu saja kami merasa senang dengan hal ini. Kami akui, memang penari-penari II1 ini “kamek-kamek. Yo, sakamek si Juanda waktu dibadakan ibuk Yeni lah .. (ha ha...)


Juli ‘01

Kini kami sadang sibuk manyiapkan perpisahan khusus kelas kami. Rencananya sih kami ingin “homstei” di villa, tapi berhubung karena villanya sudah penuh di “boking” orang, rencana ini batal ... (he he ... mangolak stek).

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke “Kebon Teh” di PTPN 6 Danau Kembar. Indak baa lah, bak kecek urang, “Ndak homstei, kebon teh pun jadi!”.

Dan berangkatlah anak-anak manis ini ke tempat tujuan. Kami terkesima dengan keindahan alamnya. Di sana kami mengadakan beberapa acara, salah satunya adalah melihat proses pembuatan teh, dari proses pemetikan sampai pada proses pengepakan. Ya, sekedar menambah pengalaman kami cukuplah

Selain itu, kami juga mengadakan games dengan hadiah utama sebuah mobil “jaguar” (mengolak liak!). Pengalaman ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan, walaupun “penek” tapi ada kepuasan tersendiri di hati kami ...


Kelas III - Agus ‘01

Sekarang kami sudah menjadi siswa paling besar di sekolah ini (maksudnya alah kelas tigo). Kami masuak kelas 3IPA1, urangnyo itu-itu jo baliak, tapi ada salah satu teman kami yang ingin mengadu nasib di perantauan kelas lain. Jelas saya kami merasa kehilangan, tapi kesedihan kami terobati setelah kelas kami mendapatkan “subsidi cowok”. Ya, memang sih selama ini di kelas kami banyak kaum hawanya daripada kaum adamnya.

Mereka adalah Ridho & Ricky. Si Ridho alias coles ko lumayan tinggi, si Ridho se kalah asaing dek inyo(nampaknya orang-orang yang bernama Ridho memang ditakdirkan untuk tinggi).

Kalau si Ricky, anaknyo agak ngenek saketek, makanya dia digelari Mak Etek, tapi inyo putiah (kalau dibandingan samo si Iyud, he 3x), mungkin amaknyo pakai Sunclin ma. Oh ya ... wali kelas kami sekarang adalah Dra. Hasni Syam, seorang guru Biologi.


Desember ‘01

Hari ini kami berada di rumah Ayu untuk mengadakan berbuka bersama. Disini kami merasakan kemakmuran karena subsidi gizi mencukupi.

Selesai berbuka kami mengadakan renungan dari hati ke hati. Acaranya berlangsung dengan khidmat, walaupun tidak sekhidmat upacara bendera di sekolah (bilo la ... he he he)


Februari ‘02

Hari ini kami memutuskan, bahwa kami akan membuat sebuah kenang-kenangan berupa buku kelas. Maksud kami membuat buku kelas ini agar buku ini dapat menjadi wadah rentetan kenangan kebersamaan kami yang akan kami ingat sampai akhir hayat kami ...


Cerita ini adalah kenyataan semata. Kesamaan nama dan tempat merupakan suatu kesengajaan. Kalau ada salah-salah kato, kami mohon maaf. Kalau masih ada cerita yang indak tasabui’an, tambah-tambah se surang. Kritik dan saran sangat kami harapkan, tapi kami lebih mengharapkan sanjung dan puji. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat kami, alangkah baiknya “sanjung & puji” tersebut tidak dalam bentuk kata-kata atau ucapan melainkan dalam bentuk barang atau uang tunai